Kamis, 20 September 2012

Panggilan Rasulullah


قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
(آل عمران : 31 )

”Katakanlah jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku (Nabi Muhammad), niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 31).

Cinta Allah SWT tersimpan pada Sayyidina Muhammad SAW, sehingga Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa hambaNya karena mengikuti kekasihNya Sayyidina Muhammad SAW. Oleh karena itu mengikuti Rasulullah SAW adalah sesuatu yang diperintah oleh Allah SWT, sehingga memenuhi panggilan beliau merupakan hal yang wajib dalam keadaan apapun, sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika seorang sahabat sedang melakukan shalat, di saat itu Rasulullah SAW memanggilnya, namun dia melanjutkan shalatnya kemudian setelah selesai ia mendatangi Rasulullah SAW, lantas Rasulullah SAW bertanya kepadanya : 

“Kemanakah engkau, aku memanggilmu namun kau tidak juga datang?”, maka ia menjawab : “Wahai Rasulullah tadi aku sedang melakukan shalat”, kemudian Rasulullah SAW menjawab : “Bukankah Allah SWT telah berfirman” :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
(الأنفال : 24 )

“ Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasulullah apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan”. ( QS. Al Anfaal : 24 )

Maka menjawab panggilan Rasulullah SAW harus dijawab, dimana seruan beliau SAW menghidupkan jiwa untuk lebih dekat kepada Allah SWT,untuk lebih suci dan luhur, serta menjauh dari perbuatan dosa, demikianlah makna dari setiap panggilan Rasulullah SAW. Kita ketahui bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Tunggal dan Abadi, yang membuka rahasia-rahasia keluhuran sepanjang waktu dan zaman, menganugerahkan kenikmatan untuk manusia dalam kehidupan dunia ini, namun manusia hanya akan merasakannya dalam waktu yang sangat singkat yang selanjutnya akan meninggalkannya, kemudian kelak di hari kiamat akan dimintai pertanggungjawaban atas usia yang telah diberikan kepada mereka selama di dunia, yang telah dipinjami nafas dan jasad dengan panca inderanya, akan setiap kenikmatan yang diberikan kepada mereka ketika di dunia. Sehingga keberuntungan besar bagi orang-orang yang mendapatkan pengampunan dari Allah SWT, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendatangi dan mengikuti panggilan Allah dan RasulNya. Adapun kehadiran kita di majelis-majelis Maulid merupakan seruan nabi Muhammad SAW kepada kita untuk mendekat kepada Allah SWT dan menjauhi hal-hal yang dimurkai Allah, dan jika ada orang yang hadir diantara kita di majelis ini karena niat yang jelek atau ingin berbuat hal-hal yang membuat Allah murka, maka ketahuilah bahwa niat buruknya akan menjerumuskannya ke dalam kehinaan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah atsar (perkataan atau perbuatan para sahabat Rasulullah SAW), yang tertulis di dalam kitab Mamlakah Al Quluub oleh guru mulia Al Musnid Al ‘Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh bahwa dalam setiap niat baik dari perbuatan manusia maka Allah SWT akan membukakan baginya 30 pintu kebaikan, sebaliknya jika ia berniat buruk dalam suatu perbuatan maka Allah akan membukakan 30 pintu keburukan baginya. Maka bukalah pintu-pintu kebaikan itu dengan memperbanyak niat yang baik. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda :

 إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“ Sesungguhnya perbuatan (tergantung) dengan niatnya”

Semakin luhur niat seseorang dalam perbuatannya, maka akan semakin mulia anugerah yang akan didapatkannya dari Allah SWT, sebaliknya semakin buruk niat dalam perbuatannya maka akan semakin terjatuh dalam jurang kehinaan. Allah SWT berfirman :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ، ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ ، إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
( التين : 4-6 )

“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. ( QS. At Tiin : 4-6 )

Sungguh mereka akan dikembalikan kepada sehina-hinanya tempat kecuali orang-orang yang beriman, dan mereka itu adalah pengikut Sayyidina Muhammad SAW, yang mengerjakan kebaikan dengan tuntunan beliau SAW, dimana balasan untuk mereka adalah pahala dari Allah yang tiada terputus. Demikian jauh perbedaan antara orang yang taat kepada Allah dan orang yang tidak taat kepadaNya. Maka perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia akan membuka rahasia rahmat Allah SWT. Sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda :

حُوسِبَ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَلَمْ يُوجَدْ لَهُ مِنْ الْخَيْرِ شَيْءٌ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ رَجُلًا مُوسِرًا وَكَانَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَكَانَ يَأْمُرُ غِلْمَانَهُ أَنْ يَتَجَاوَزُوا عَنْ الْمُعْسِرِ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: نَحْنُ أَحَقُّ بِذَلِكَ مِنْهُ تَجَاوَزُوا عَنْهُ (صحيح المسلم )

“Akan dihisab seseorang dari umat sebelum kalian, maka tidak didapati sedikitpun kebaikan pada dirinya kecuali ia adalah orang yang mempermudah (jika berurusan dengan orang lain), serta ia bergaul dengan orang-orang, dan ia menyuruh budaknya untuk memberikan kelapangan atau kemudahan (memaafkan) kepada orang yang dalam kesulitan. Maka, Allah ‘azza wajalla berfirman: “Kami lebih berhak terhadap hal tersebut dari padanya, berilah kelapangan untuknya (maafkan dia )”. ( Shahih Muslim)

Dan Rasulullah SAW adalah panutan tunggal bagi kita, dimana beliau adalah orang yang paling berlemah lembut dari semua manusia, bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersikap lemah lembut terhadap orang non muslim, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Bukhari ketika seorang pemuda yahudi datang ke rumah Rasulullah SAW dan hendak tinggal bersama beliau kemudian diberinya izin sehingga ia tinggal di rumah Rasulullah SAW, dalam kesehariannya ia hidup dan makan serta minum bersama Rasulullah SAW, namun suatu waktu pemuda tersebut pergi dari rumah Rasulullah SAW, dan setelah ditanya ternyata pemuda itu sedang sakit dan pulang ke rumahnya. Maka Rasulullah SAW datang ke rumahnya, dan mendapatinya dalam keadaan sakaratul maut, kemudian Rasulullah SAW berkata : 

Ucapkanlah لاإله إلا الله محمد رسول الله “, maka pemuda tersebut memandang ayahnya yang juga seorang yahudi, karena melihat kebaikan dan kelembutan Rasulullah SAW, ayah pemuda itu berkata : “Taatilah Abu Al Qasim (Nabi Muhammad)”, lantas pemuda itu pun mengucapkan لا إله إلا الله محمد رسول الله  kemudian meninggal. Ketika itu Rasulullah SAW merasa sangat gembira dan keluar dari rumah itu dengan wajah yang terang benderang, maka salah seorang sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang telah membuatmu sangat gembira?”, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “ Alhamdulillah pemuda itu telah mendapatkan hidayah dari Allah SWT”.  

Sungguh mulia budi pekerti Sayyidina Muhammad SAW.

Sumber : majelisrasulullah.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar