Tampilkan postingan dengan label ibrahim bin adham. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibrahim bin adham. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Desember 2012

Seorang Sufi dan Ahli Maksiat




Pada suatu hari, Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang sudah sekian lama hidup dalam kemaksiatan, sering mencuri, selalu menipu, dan tak pernah bosan berzina.

Orang ini mengadu kepada Ibrahim bin Adham : "Wahai tuan guru, aku seorang pendosa yang rasanya tak mungkin bisa keluar dari kubangan maksiat. Tapi, tolong ajari aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini …?"

Ibrahim bin Adham menjawab : "Kalau kamu bisa selalu berpegang pada lima hal ini, niscaya kamu akan terjauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.

Pertama, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu."

Orang itu terperangah : "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah selalu melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun …? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam kesendirian, di kamar yang gelap, bahkan di lubang semut pun.
" Wahai anak muda, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah tetanggamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu … ? Lalu mengapa terhadap Allah kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat … ?"

Orang itu lalu tertunduk dan berkata : "Katakanlah yang kedua, Tuan guru … !"

Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah".

Pemuda itu kembali terperangah : "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata …? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah juga".

Ibrahim bin Adham menjawab : "Wahai anak muda, masih pantaskah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya …? Kalau kamu numpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah kamu punya muka untuk terus makan darinya … ?"

"Sekali-kali tidak … ! Katakanlah yang ketiga, Tuan guru".

Ketiga, kalau kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah".

Orang itu tersentak : "Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru … ? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milik-Nya juga … ?"

Ibrahim bin Adham menjawab :"Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang, numpang makan dari semua miliknya, akankah kamu cukup tebal muka untuk melecehkan aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan …?"

Orang itu kembali terdiam, air mata menetes perlahan dari kelopak matanya lalu berkata : "Katakanlah yang keempat, Tuan guru".

Keempat, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, dan suatu saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertobat, tolaklah ia dan janganlah mau nyawamu dicabut".

Bagaimana mungkin, Tuan guru …? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut … ?"

Ibrahim bin adham menjawab : "Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih juga berbuat dosa dan maksiat …? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya … ?"
Air mata menetes semakin deras dari kelopak mata orang tersebut, kemudian ia berkata : "Wahai tuan guru, katakanlah hal yang kelima".

Kelima, jika kamu masih akan berbuat dosa, dan tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justru ketika sedang melakukan dosa, maka janganlah mau kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu bisa bertobat dan menambal dosa-dosamu itu".

Pemuda itupun berkata : "Bagaimana mungkin seseorang bisa minta kesempatan hidup lagi, Tuan guru …? Bukankah hidup hanya sekali … ?”

Ibrahim bin Adham pun lalu berkata : "Oleh karena hidup hanya sekali anak muda, dan kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk menumpuk dosa dan maksiat … ?"

Pemuda itupun langsung pucat, dan dengan suara parau menahan ledakan tangis ia mengiba : "Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya".

Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh dari perbuatan-perbuatan tercela.

AKIBAT MAKAN KURMA MILIK ORANG LAIN




Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat untuk berziarah ke Masjidil Aqsa. Sebagai bekal diperjalanan, ia membeli kurma dari pedagang tua yang berdagang dekat Masjidil Haram.

Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma terjatuh dari meja, dan berdekatan dengan timbangan. Ia menyangka kurma itu sebahagian dari yang ia beli, dan Ibrahim memungut lalu memakannya.

Kemudian ia terus berangkat menuju Al Aqsa. Empat bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih satu tempat beribadah dalam ruangan di bawah Kubah Sakhra. Ia bersolat dan berdoa dengan khusyuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

"Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara' yang do'anya selalu dikabulkan ALLAH SWT", kata malaikat yang satu.

"Tetapi sekarang tidak lagi. Do'anya ditolak kerana empat bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram", jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut, dan ia merasa cemas sekali, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, solatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. "Astaghfirullahal 'adzhim", Ibrahim beristighfar.

Terus ia berkemas untuk berangkat lagi menuju ke Mekkah untuk menemui pedagang tua penjual kurma untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Begitu sampai di Mekkah ia bergegas terus menuju ke tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemui pedagang tua itu melainkan seorang anak muda.

"Empat bulan yang lalu saya membeli kurma di sini dari seorang pedagang tua. Di manakah ia sekarang ?", tanya Ibrahim.

"Ooo ... Beliau sudah meninggal sebulan yang lalu, sekarang saya yang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma", jawab anak muda itu.

"Innalillahi wa innailaihi roji'uun, kalau begitu kepada siapakah saya boleh meminta untuk penghalalan … ?".

Kemudian Ibrahim menceritakan peristiwa yang dialaminya.

“Nah, begitulah”, kata Ibrahim setelah bercerita.

"Saudara sebagai ahli waris orang tua itu, bolehkah saudara menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur saya makan tanpa izinnya … ?".

"Bagi saya tidak masalah ... Insya Allah saya halalkan ... Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang ... Saya tidak berani menghalalkan bagi pihak mereka, karena mereka mempunyai hak waris yang sama dengan saya".

"Tolong berikan alamat saudara-saudaramu, biar saya temui mereka satu persatu".

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi menemui saudara-saudara anak muda itu. Meskipun berjauhan, akhirnya urusan itu selesai juga. Mereka semua setuju menghalalkan sebutir kurma milik ayah mereka yang dimakan oleh Ibrahim secara tidak sengaja.

Empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham kembali berada di bawah Kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap.

"Itulah Ibrahim bin Adham yang do'anya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain".

"Ooo, tidak … ! Sekarang do'anya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang beliau sudah bebas".